Warga Meradang, BAZNAS Diduga Jadikan Bencana Banjir Sebagai Konten Amal

  • Bagikan

Warta1.id — Warga Perumahan Graha Permata Muktiharjo, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, dibuat kecewa dengan aksi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang dinilai hanya memanfaatkan bencana banjir sebagai ajang pencitraan dan promosi penggalangan dana.

Banjir yang melanda kawasan tersebut sejak Selasa (21/10/2025) masih menyisakan genangan dan penderitaan bagi warga. Namun di tengah situasi sulit itu, BAZNAS justru disebut hanya datang sekali pada Jumat siang (24/10/2025) dengan membawa bantuan nasi bungkus itu pun hanya sekali bagi per rumah tangga.

Baca Juga :  Skandal Pemerasan atau Sandiwara? Kuasa Hukum Bongkar Dugaan Permufakatan Jahat Oknum TNI dan Polisi dalam Penangkapan Tiga Wartawan

Ironisnya, setelah momen pembagian nasi bungkus itu direkam dan diunggah sebagai materi kampanye donasi di media sosial, tidak ada lagi bantuan lanjutan yang diterima warga. Banyak warga menilai aksi tersebut sekadar “momen pencitraan” agar lembaga tersebut tampak aktif di hadapan publik.

“Yang kami terima cuma nasi bungkus satu kali, habis itu tidak ada lagi bantuan. Tapi di media sosial BAZNAS tampil seolah mereka terus membantu korban banjir,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.

Baca Juga :  Diduga Ada Jual Beli Tanah Hasil Kerukan Sungai Jragung, PT JET Bantah Terlibat

Warga juga menyoroti penggunaan citra bencana untuk kepentingan penggalangan dana publik, yang dianggap merugikan moral korban. Mereka menilai, BAZNAS memanfaatkan penderitaan warga sebagai bahan promosi tanpa ada tindakan nyata yang berkelanjutan.

“Kalau memang niatnya membantu, seharusnya mereka datang lagi, lihat kondisi kami. Jangan cuma datang sekali buat video lalu ditinggal,” imbuh warga lainnya.

Baca Juga :  SPBU 44.531.28 Kedungpring Diduga Layani Pengisian Solar Bersubsidi dengan Jerigen

Hingga berita ini ditulis, tidak ada laporan tambahan distribusi bantuan dari BAZNAS kepada warga Graha Permata Muktiharjo. Sementara itu, masyarakat masih bergotong royong mengatasi dampak banjir dengan sumber daya seadanya.

Tragedi ini menjadi tamparan bagi lembaga-lembaga sosial agar tidak menjadikan bencana sebagai ladang pencitraan atau keuntungan. Warga berharap ada evaluasi serius terhadap lembaga yang mengatasnamakan kemanusiaan, namun justru meninggalkan rasa kecewa dan ketidakpercayaan di tengah masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *