Warta1.id – Pasar Peterongan yang terletak di Jalan MT Haryono, Kota Semarang, dikenal sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di ibu kota Jawa Tengah. Aktivitas jual beli di pasar ini berlangsung sejak dini hari hingga siang, melibatkan beragam lapisan masyarakat. Selain melayani kebutuhan warga sekitar, Pasar Peterongan juga menjadi rujukan utama bagi para pedagang sayur keliling karena kelengkapan komoditas dan harga yang relatif terjangkau.
Di balik hiruk-pikuk aktivitas ekonomi tersebut, Pasar Peterongan menyimpan nilai sejarah yang panjang. Pasar ini tercatat sebagai pasar pertama di Kota Semarang yang dibangun menggunakan konstruksi beton permanen. Pembangunannya pada masa kolonial Belanda dikerjakan oleh De Hollandsche Beton Maatschappij (HBM), sebuah perusahaan konstruksi yang kala itu banyak menangani proyek infrastruktur penting.
Nilai historis inilah yang kemudian menjadi pertimbangan utama Pemerintah Kota Semarang saat melakukan renovasi besar-besaran pada 2015. Dalam proses revitalisasi tersebut, Pemkot memilih untuk mempertahankan bentuk asli bangunan dan tidak melakukan perubahan signifikan pada struktur utama pasar. Pemerintah menilai Pasar Peterongan memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah kota.
Pengakuan resmi terhadap nilai sejarah tersebut diperkuat dengan penetapan Pasar Peterongan sebagai bangunan cagar budaya pada 17 Januari 2017. Status cagar budaya ini tidak hanya melekat pada bangunan pasar, tetapi juga mencakup pohon asam berukuran besar yang berada di area pasar serta Punden Mbah Gosang yang terletak di sekitarnya. Keduanya dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan identitas Pasar Peterongan.

Pohon asam yang berada di kawasan pasar memiliki keunikan tersendiri. Warga setempat menyebut pohon tersebut telah lama dikeramatkan dan tidak pernah ditebang. Selain usianya yang sudah sangat tua, pohon ini diyakini berbeda dari pohon asam pada umumnya karena tidak memiliki biji. Kepercayaan tersebut membuat masyarakat sekitar memilih untuk menjaga keberadaannya hingga kini.
Sementara itu, Punden Mbah Gosang juga menyimpan cerita yang hidup di tengah para pedagang dan warga sekitar. Menurut penuturan sejumlah pedagang, Mbah Gosang dikenal sebagai tokoh yang dihormati pada masa lalu. Ia diyakini pernah singgah di kawasan Pasar Peterongan dan membantu menyembuhkan banyak orang yang sakit.
Kepercayaan terhadap sosok Mbah Gosang masih bertahan hingga sekarang. Punden tersebut kerap diziarahi oleh masyarakat yang berharap mendapatkan kesembuhan atau memohon agar keinginan mereka terkabul. Para pedagang menyebut, peziarah tidak hanya datang dari wilayah Semarang dan sekitarnya, tetapi juga dari luar kota bahkan luar pulau, seperti Kalimantan dan Sumatera.
Keberadaan Pasar Peterongan dengan segala aktivitas ekonomi, sejarah bangunan, serta tradisi yang melekat di sekitarnya menunjukkan bahwa pasar ini bukan sekadar pusat perdagangan. Pasar Peterongan telah menjadi ruang sosial dan kultural yang merekam perjalanan panjang kehidupan masyarakat Kota Semarang dari masa ke masa.






