Misteri Makam di Tanjakan Gombel Ternyata Altar Tolak Bala

  • Bagikan

Warta1.id – Bagi masyarakat Semarang dan sekitarnya, Tanjakan Gombel bukan hanya dikenal sebagai jalur padat menuju kawasan Tembalang, tetapi juga menyimpan cerita menarik terkait sebuah bangunan kecil di pinggir jalan. Sekilas bangunan itu menyerupai makam tunggal, namun ternyata bukanlah makam, melainkan altar tolak bala.

Altar tersebut dibangun pada era 1970-an untuk menghormati Dewa Hok Tik Thiek Tjing Sien, sebagai bentuk doa agar para pengguna jalan terhindar dari kecelakaan. Pasalnya, kawasan Gombel sejak lama dikenal rawan insiden lalu lintas.

Baca Juga :  Ramalan Joyoboyo dan Letusan Gunung di Jawa: Antara Kepercayaan Budaya dan Fakta Alam

Altar ini pernah mengalami perbaikan, salah satunya dilakukan oleh pemerhati budaya Tionghoa, Om Tan Gak Tjay. Pada altar tersebut tertera aksara Tionghoa bertuliskan “Namo Amitofu”, sebuah pujian dalam ajaran Buddha Mahayana yang dimaksudkan untuk menenangkan arwah-arwah di perbukitan Gombel.

Sejarah kawasan ini berawal dari tahun 1797, ketika Gubernur Jenderal VOC, Baron van Heckerkeren, membangun jalan pos yang membelah Bukit Gombel. Pembangunan itu mengharuskan sebagian besar makam Tionghoa dipindahkan ke lokasi lain. Namun, tidak semua makam berhasil direlokasi. Ada makam yang tetap terkubur di bawah proyek jalan pos tersebut.

Baca Juga :  Ketika Tekanan Hidup Membuka Celah Eksploitasi Berkedok Spiritual

Sejak jalan itu digunakan, warga mencatat sering terjadi kecelakaan di sepanjang tanjakan. Kondisi inilah yang kemudian mendorong masyarakat mendirikan altar sebagai sarana doa dan penghormatan.

Sebagian besar makam Tionghoa yang terdampak pembangunan jalan pos kemudian dipindahkan ke kawasan perbukitan Kedungmundu, Semarang, yang hingga kini masih berfungsi sebagai tempat pemakaman etnis Tionghoa.

Baca Juga :  Pasar Peterongan, Jejak Sejarah dan Tradisi di Tengah Kota Semarang

Keberadaan altar di Tanjakan Gombel menjadi bagian dari sejarah kota Semarang, yang menunjukkan bagaimana budaya, keyakinan, dan tradisi lokal berpadu dalam menghadapi fenomena sosial di masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *