Warta1.id – Kementerian Intelijen Iran melaporkan penangkapan ratusan orang yang diduga terkait jaringan loyalis monarki serta mata-mata asing di sejumlah wilayah negara tersebut. Operasi ini dilakukan di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah memasuki pekan ketiga.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Rabu (18/3/2026), otoritas Iran menyebutkan sebanyak 111 orang ditangkap dalam operasi yang berlangsung di 26 provinsi. Aparat keamanan juga mengklaim menyita sejumlah besar senjata yang diduga terkait dengan kelompok yang disebut sebagai “sel-sel royalis”.
Pemerintah Iran menuduh sebagian dari mereka memiliki keterkaitan dengan kelompok pendukung monarki yang diasosiasikan dengan rezim Reza Pahlavi. Selain itu, Kementerian Intelijen Iran juga menyatakan telah menangkap empat orang yang diduga sebagai mata-mata Amerika Serikat.
“Empat mata-mata untuk rezim AS dan proksi mereka telah diidentifikasi dan ditangkap di Provinsi Hamadan dan Azerbaijan Barat,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut, seperti dikutip media internasional. Mereka dituduh memberikan informasi sensitif terkait lokasi pasukan, fasilitas militer, serta pergerakan aparat keamanan Iran kepada pihak lawan.
Di sisi lain, konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus berlanjut sejak pecah pada 28 Februari 2026. Serangan yang berlangsung intensif disebut telah menimbulkan dampak besar, baik dari sisi militer maupun korban sipil.
Otoritas Israel pada hari yang sama mengklaim telah menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib. Klaim ini belum mendapat konfirmasi independen dari pihak Iran. Sehari sebelumnya, laporan juga menyebutkan bahwa dua pejabat tinggi Iran lainnya turut tewas, yakni Komandan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, serta Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Ali Larijani.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa sejak awal konflik, sedikitnya 1.444 orang telah meninggal dunia dan 18.551 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi.
Hingga kini, situasi di kawasan masih memanas dengan belum adanya tanda-tanda deeskalasi. Informasi yang beredar terkait korban maupun klaim militer dari masing-masing pihak masih sulit diverifikasi secara independen di tengah keterbatasan akses di wilayah konflik.












