Warta1.id – Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah di Indonesia kembali diwarnai perbedaan antara pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Perbedaan ini bukan hal baru, melainkan konsekuensi dari metode yang digunakan masing-masing pihak dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Syawal melalui sidang isbat. Forum ini menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) yang dilakukan di berbagai titik di Indonesia. Pemerintah mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
Keputusan resmi biasanya diumumkan setelah sidang isbat digelar, sehingga masyarakat yang mengikuti pemerintah harus menunggu kepastian hingga menjelang akhir Ramadan.
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab murni dengan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Muhammadiyah menggunakan prinsip wujudul hilal, yakni ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk, berapapun ketinggiannya, maka bulan baru dinyatakan telah masuk.
Adapun Nahdlatul Ulama (NU) tetap mengedepankan metode rukyat. Meski hisab digunakan sebagai pedoman awal, keputusan penentuan awal bulan bergantung pada hasil pengamatan hilal secara langsung. Dalam praktiknya, NU kerap sejalan dengan pemerintah, namun tetap menunggu hasil rukyat sebagai dasar penetapan.
Perbedaan metode ini berdampak pada penentuan Hari Raya Idul Fitri di tengah masyarakat. Muhammadiyah dapat menetapkan jadwal Lebaran lebih awal sehingga memberikan kepastian bagi warganya. Sementara itu, umat yang mengikuti pemerintah dan NU perlu menunggu hasil sidang isbat.
Meski demikian, perbedaan tersebut umumnya tidak menimbulkan konflik. Masyarakat Indonesia telah terbiasa menyikapi perbedaan ini dengan sikap saling menghormati, menjadikannya sebagai bagian dari dinamika keberagaman dalam beragama.
Perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 H mencerminkan dua pendekatan utama, yakni kepastian berbasis hisab dan kehati-hatian melalui rukyat. Pemerintah berupaya menggabungkan keduanya, Muhammadiyah menekankan kepastian perhitungan astronomi, sementara NU menempatkan rukyat sebagai penentu utama.
Dengan demikian, perbedaan ini kembali menjadi bagian dari realitas umat Islam di Indonesia, yang tetap dapat disikapi dalam semangat persatuan saat menyambut Idul Fitri.












