Antara Nalar dan Takhayul di Era Digital

  • Bagikan

Warta1.id – Di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepercayaan pada hal-hal supranatural nyatanya masih bertahan kuat di masyarakat. Era digital yang menawarkan akses informasi tanpa batas tidak serta-merta membuat manusia sepenuhnya berpijak pada nalar dan sains. Sebaliknya, takhayul, praktik perdukunan, dan keyakinan gaib tetap menemukan ruang hidupnya sendiri.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial. Munculnya penipuan berkedok praktik perdukunan menjadi salah satu pendorong lahirnya berbagai kelompok atau istilah baru yang mencoba “memutihkan” citra dukun. Meski sering dianggap tabu, irasional, atau bahkan dicemooh, praktik perdukunan tetap diminati. Menariknya, pengguna jasa ini tidak terbatas pada kelompok berpendidikan rendah atau ekonomi lemah. Orang-orang bergelar doktor, lulusan universitas ternama dunia, pengusaha besar, hingga pejabat publik dan tokoh politik pun disebut-sebut pernah memanfaatkan jasa serupa.

Baca Juga :  Ketika Tekanan Hidup Membuka Celah Eksploitasi Berkedok Spiritual

Di ruang publik, praktik supranatural juga hadir dalam bentuk hiburan. Televisi menayangkan sosok yang disebut paranormal atau peramal istilah yang terdengar lebih halus ketimbang dukun. Tayangan semacam ini, sadar atau tidak, ikut menormalisasi kepercayaan pada kemampuan di luar nalar ilmiah.

Dari sudut pandang psikologi, kepercayaan terhadap hal-hal supranatural bukan semata persoalan kebodohan atau ketertinggalan. Sejumlah ilmuwan menjelaskan adanya faktor kognitif dan biologis yang memengaruhi cara manusia memersepsikan realitas. Tapani Riekki dari Universitas Helsinki, Finlandia, dalam wawancara dengan BBC (31 Oktober 2014), menyebut bahwa orang yang percaya pada hal-hal supranatural cenderung memiliki hambatan kognitif yang lebih lemah. Hambatan ini berfungsi menyaring pikiran-pikiran yang tidak relevan atau tidak rasional.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki pikiran aneh atau dugaan yang tidak sepenuhnya logis. Perbedaannya, orang yang skeptis lebih mampu menyingkirkan dugaan tersebut sebelum berubah menjadi keyakinan. Sementara itu, Ronald E. Riggio, profesor psikologi dari Claremont McKenna College, California, dalam Psychology Today (17 November 2019), mengaitkan kepercayaan pada hal gaib dengan bias kognitif. Bias pandangan ke belakang dan bias konfirmasi membuat seseorang merasa ramalan atau firasatnya selalu benar, padahal ia hanya mengingat kejadian yang sesuai dengan keyakinannya dan mengabaikan yang bertentangan.

Baca Juga :  Jejak Legenda Kiai Sanggem dan Nyai Sanggem dalam Sejarah Nama Bandungan

Peneliti lain, Sander van der Linden, menilai kepercayaan pada takhayul sering muncul dari kegagalan berpikir reflektif. Orang yang lebih mengandalkan intuisi ketimbang penalaran kritis cenderung mudah menerima penjelasan supranatural. Dalam situasi hidup yang penuh tekanan, keyakinan semacam ini kerap dijadikan tameng psikologis untuk menghadapi ketidakpastian dan rasa tidak berdaya.

Namun, memandang rendah orang yang mempercayai hal-hal supranatural juga bukan sikap bijak. Dalam batas tertentu, kepercayaan pada jimat atau simbol keberuntungan bisa meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi. Efek positif yang muncul sering kali bukan berasal dari benda magis itu sendiri, melainkan dari dorongan psikologis yang membuat seseorang bekerja lebih keras dan fokus.

Baca Juga :  Misteri Makam di Tanjakan Gombel Ternyata Altar Tolak Bala

Masalah muncul ketika kepercayaan tersebut melemahkan kemampuan bernalar, menurunkan kepercayaan pada sains, dan membuka pintu bagi penipuan, teori konspirasi, serta hoaks. Dalam konteks ini, takhayul tidak lagi sekadar keyakinan pribadi, melainkan berpotensi merugikan secara sosial.

Karena itu, menjaga pola pikir kritis dan reflektif menjadi tantangan penting di era digital. Pendidikan yang menekankan kemampuan bernalar, mengelola emosi, serta bersikap skeptis secara sehat perlu terus diperkuat. Bukan untuk mematikan keyakinan personal, melainkan agar manusia tetap memegang kendali atas pikirannya sendiri tidak mudah terombang-ambing antara nalar dan takhayul.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *